Cari Sesuatu?...

Jumat, 02 Oktober 2009

NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT Bag. 1-3


NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian pertama dari Tiga Tulisan [1/3]
  _____  



Inilah nasehatku kepada ikhwan dan akhwat fillah pada khususnya, dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Inilah nasehatku buat kalian dan juga buat diriku sendiri. Yaitu ; hendaklah kita senantiasa memperhatikan Al-Qur'an, merenungi makna-maknanya. mengahafalnya di luar kepala, tamak untuk terus menerus membacanya, sesekali membaca dengan cara melihat pada mushaf, kali lain membaca dengan hafalan tanpa melihat mushaf. Manakala pembaca Al-Qur'an tergolong yang sudah hafal maka ditindaklanjuti dengan merenungi, memikirkan, dan mencari faedah dari apa yang dibaca. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah :

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". (Shad : 29).

Adapun pelaksanaannya yaitu dengan pengamalan, pemahaman dan pendalaman. Allah subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an untuk diamalkan, dikaji dan didalami. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat".  (Al-An'am : 155).

Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan dan diikuti. Tidak semata-mata hanya untuk dibaca dan dihafal. Karena menghafal dan membaca itu sekedar perantara saja. Adapun yang dimaksudkan adalah memahami kitab dan sunnah disertai dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Hal itu terkumpul dalam perintah Allah Ta'ala di dalam surat At-Taubah : 71.

"Artinya : Dan  orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (At-Taubah : 71).

Ayat ini merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang secara menyeluruh menjelaskan sifat-sifat mukmin dan mukminat dan akhlaknya yang agung serta apa-apa yang diwajibkan atas mereka. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan orang-orang  yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain". (At-Tubah : 71).

Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mukminin dan mukminat, mereka itu adalah saling menjadi wali satu sama lain, mereka saling memberi nasehat dan saling mencintai karena Allah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa. Demikian sifat mukminin dan mukminat.

Seorang mukminin menjadi wali atas saudaranya fillah, yang laki-laki dan perempuan. Seorang mukminat menjadi wali bagi saudaranya fillah, baik yang laki-laki dan perempuan. Masing-masing diantara mereka merasa senang terhadap kebaikan (yang diperoleh) saudaranya. Mereka mendoakan kebaikannya, turut bahagia atas keistiqamahan saudaranya dan mencegah keburukan yang akan menimpanya, tidak melakukan ghibah padanya, tidak berbicara yang dapat menjatuhkan kehormatannya, tidak mengadu domba tidak memberikan persaksian palsu atasnya dan tidak memakinya, serta tidak memanggilnya dengan panggilan bathil. Demikianlah akhlak mukminin dan mukminat.

Manakala kau dapatkan dirimu menyakiti saudaramu fillah baik laki-laki atau perempaun misalkan dengan mengghibah, mencela, mengadu domba atau mendustainya dan lain semisalnya, ketahuilah bahwa keimananmu kurang atau engkau adalah orang yang lemah iman. Seandainya keimananmu itu benar-benar lurus lagi sempurna, niscaya kamu tidak akan mendhalimi saudaramu atau melakukan ghibah dan adu domba, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan bathil, atau memberikan persaksian palsu atau sumpah palsu atau mencacinya dan semisalnya. Maka keimanan kepada Allah, dan rasul-Nya, taqwa kepada Allah, kebaikan dan hidayah, kesemuanya itu mencegah seseorang melakukan tindakan yang menyakitkan saudaranya fillah baik laki-laki atau wanita. Mereka dilarang melakukan ghibah, cacian, kedustaan, memanggil dengan sebutan yang bathil, mempersaksikan dengan kedustaan dan berbagi macam tindak kezhaliman. Keimanan seseorang yang benar, merintangi dan menghalangi untuk berbuat berbagi tindakan yang menyakitkan saudaranya.

Allah berfirman :

"Artinya : ..... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,....." (At-Taubah : 71).

Inilah kewajiban yang besar yang didalamnya ada kebaikan bagi umat, kemenangan bagi agama dan terhindarnya sebab-sebab kebinasaan, kemaksiatan dan kejahatan.

Sudah selayaknya bagi mukminin dan mukminat untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Seorang mukmin tidak akan berdiam diri melihat kemungkaran yang terjadi pada saudaranya, pastilah ia berusaha untuk mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudara, bibi atau saudari perempuan yang lain melakukan kemaksiatan pastilah mereka akan mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudaranya fillah meremehkan kewajiban pastikah akan mengingkarinya dan memerintahkannya kepada kebaikan. Itu semua dilakukan dengan bijak dan cara yang baik. Seorang mukmin apabila melihat saudaranya bermalas-malas dalam menunaikan shalat, melakukan ghibah, adu domba, minum khamr, merokok, mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali persaudaraan, pastilah ia akan mengingkarinya dengan ucapan yang baik dan cara yang tepat, ia tidak menuduhnya dengan sebutan yang dibenci atau dengan cara yang kasar. Allah telah memberikan penjelasan bahwa hal tersebut adalah dilarang.

Demikian pula jika ia melihat kemungkaran pada diri saudara perempuannya fillah, ia harus mengingkarinya. Seperti tatkala dia tidak patuh kepada orang tuanya, berlaku buruk pada suaminya, meremehkan pendidikan anak-anaknya atau meremehkan shalatnya, maka seorang mukmin harus mengingkarinya, baik (ia itu) suaminya, ayahnya, saudaranya, kemenakannya atau bahkan tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Sebaliknya jika seorang mukminah melihat pada diri suaminya sikap meremehkan (kewajiban), ia pun harus melarangnya. Seperti, jika ia melihat suaminya minum khamr, merokok,meremehkan shalat atau suaminya shalat fardhu di rumah (tidak di masjid), maka ia harus mengingkarinya dengan cara yang baik dan ucapan yang baik pula. Seperti dengan mengatakan (kepada suaminya), "Wahai Hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah ! Sesungguhnya perbuatan itu tidak boleh kamu lakukan. Peliharalah shalat jama'ah. Tinggalkanlah apa yang telah diharamkan Allah kepadamu dari minuman yang memabukkan, merokok, mencukur jenggot, memanjangkan kumis atau isbal".

Kemungkaran-kemungkaran ini wajib diingkari oleh setiap orang beriman. Maka hal ini wajib atas suami dan istri, saudara, kerabat, tetangga, teman duduk dan yang lain untuk menegakkan kewajiban ini. Sebagaimana firman Allah :

"Artinya : .... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar ....". (At-Taubah : 71).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya, apabila manusia telah melihat kemungkaran, lalu ia tidak mau merubahnya, dikhawatirkan Allah akan meratakan adzab-Nya".

"Artinya : Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman".

Perintah ini berlaku umum untuk seluruh bentuk kemungkaran, baik yang terjadi di jalan-jalan, di rumah, di masjid, di kapal terbang, di kereta api, di mobil atau di tempat mana saja. Perintah amar ma'ruf nahi mungkar itu berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan harus berbicara tentang amar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena amar ma'ruf nahi mungkar membawa kebaikan dan keselamatan untuk semua pihak. Tak seorangpun boleh berdiam diri dari amar ma'ruf nahi mungkar semata-mata karena takut kepada setiap muslim atau takut kepada suami, saudara laki-laki atau fulan dan fulan. Setiap muslim harus tetap beramar ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang baik dan ucapan yang mengena, tidak dengan cara yang kasar dan keras. Disamping juga memperhatikan waktu yang tepat. Ada kalanya, seseorang tidak bisa menerima pengarahan pada waktu tertentu, tetapi ia bisa menerima pengarahan pada waktu yang lain, bahkan dengan lapang dada.

  _____


Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat, dengan edisi Indonesia Akhlak Salaf, Mukminin & Mukminat, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, hal 35-42, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Ihsan
  _____



NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]
  _____  



Selayaknya, seorang mukmin dan mukminah senantiasa memperhatikan timing yang tepat dalam beramar ma'ruf nahi mungkar. Janganlah berputus asa apabila ditolak pada hari itu. Sebab bisa jadi akan diterima besok lusa. Seorang mukmin dan mukminah janganlah berputus asa dalam mengingkari kemungkaran, tetapi hendaklah terus menerus dilakukannya. Hendaklah selalu menegakkan amar ma'ruf dan an-nasihah untuk hamba-Nya disertai dengan husnudhan dan mengharap besarnya pahala yang ada di sisi Allah.

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Mereka menegakkan shalat dan membayar zakat".

Demikianlah karakteristik mukminin dan mukminat, mereka selalu menegakkan shalat dan menjaga ketetapan waktunya. Bagi laki-laki melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah bersama para ikhwan yang lain. Mereka bergegas menuju masjid tatkala mendengar muadzin berseru : "Hayya 'alash shalaah hayya 'alal-falaah". Mendengar serua muadzin itu mereka akan bersegera ke masjid di setiap saat.

Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada Allah dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia (musibah tidak shalat berjamaah). Berlindunglah kepada Allah dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum munafik. Ia melaksanakan shalat farhdu di rumah, padahal Allah telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan shalat sama sekali. Ini adalah musibah yang besar dan kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut :

" Artinya : Perjanjian yang mengikat antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka telah kafir".

Kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah berlaku umum bagi laki-laki dan juga wanita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih menegaskan lagi dalam sabdanya :

"Artinya : Batas antara seseorang (mukmin) dengan kekafiran atau kemusyrikan adalah meninggalkan shalat".

Tidak dibenarkan bagi mukminin dan mukminat meremehkan perkara shalat. Bagi laki-laki, tidak boleh menunaikan shalat di rumah dengan meninggalkan jamaah di masjid, bahkan menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk menunaikannya di masjid.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur".

Telah datang menghadap Nabi seorang laki-laki lalu berkata : "Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, saya seorang yang buta, saya tidak mempunyai penunjuk jalan yang dapat menghantarkan saya ke masjid, apakah ada keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ?" Nabi bersabda : "apakah Anda mendengar  panggilan adzan untuk shalat ?" Dia menjawab : "Saya mendengar". Nabi bersabda : "Datangilah panggilan adzan itu".

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberi rukhsah (keringanan) bagi laki-laki tadi padahal sesungguhnya dia buta, dia tidak memiliki seorang penunjuk jalan yang membimbingnya ke masjid. Bagaimana dengan laki-laki yang keadaan penglihatannya sehat ?!!.

Telah dikuatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keharusan mendatanngi shalat jamaah di masjid dengan sabdanya :

"Artinya : Sungguh aku ingin sekali perintahkan segera ditunaikannya iqamat untuk shalat dan akan aku perintahkan di antara kalian agar salah seorang mengimami shalat, di saat itulah aku ingin pergi bersama para laki-laki yang sudah siap dengan kayu bakar, menuju rumah kaum lelaki yang tidak shalat berjamaah dan akan aku bakar rumah-rumah mereka".

Hal ini menunjukkan besarnya perintah tersebut, maka wajiblah bagi kaum muslimin memperhatikan shalat jamaah dan untuk bersegera mendatangi masjid setiap kali mendengar adzan. Waspadalah dari rasa malas dan berat hati melaksanakan shalat jamaah, sebab keduanya adalah merupakan sifat-sifat orang munafik. Na'udzubillah kita berlindung kepada Allah dari sifat-sifat mereka.

Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikir sekali". (An-Nisaa' : 142).

Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan masalah shalat karena shalat adalah pilar penyangga Islam, shalat merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, barangsiapa menjaganya berarti telah menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya berarti menyia-nyiakan agamanya. --Wala haula wala quwwata illa billah--. Barangsiapa menjaga shalatnya, menegakkannya dengan khusyuk dan tidak mendahului imam, maka mereka mendapat kebahagiaan sebagaimana firman Allah :

"Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya". (Al-Mukminun : 1-2).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Seburuk-buruk pencurian yang terjadi pada manusia adalah ; 'manusia yang mencuri dalam shalatnya'. Sahabat bertanya : 'Bagaimana terjadi pencurian dalam shalat ?'. Nabi Menjawab :'Shalat yang tidak sempurna rukuknya atau sujudnya".

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang buruk dalam melakukan shalat, yaitu dengan tidak menyempurnakan rukuknya atau sujudnya, maka Nabi memerintahkan laki-laki tersebut agar mengulangi lagi shalatnya.

Nabi bersabda :

"Artinya : Apabila engkau menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudlu, kemudian menghadaplah qiblat, kemudian bertakbirlah, bacalah apa yang mudah bagimu dari sebagian surat Al-Qur'an, rukuklah hingga sempurna rukukmu (tumakninah) kemudian beridirilah hingga lurus tegak, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu, kemudian angkatlah kepalamu dari sujud hingga engkau tumakninah dudukmu, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu dan kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu".

Kebanyakan manusia melakukan shalat dengan mematuk (gerakan terlalu cepat seperti ayam mematuk makanan). Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan itu adalah mungkar. Barangsiapa melakukan shalat dengan mematuk maka batal-lah shalatnya berdasarkan hadits tersebut diatas.

Shalat wajib dilakukan secara tumakninah dalam hal rukuk, sujud, i'tidal setelah rukuk, antara dua sujud dan berhati-hati untuk tidak mendahului imam. Apabila imam bertakbir janganlah segera langsung takbir tapi tunggulah hingga suara takbir imam selesai. Apabila imam berseru "Allahu Akbar" untuk rukuk maka janganlah langsung  rukuk, tunggulah hingga imam lurus rukuknya dan berhenti, setelah itu lakukan rukuk. Demikianlah pula dalam sujud, janganlah mendahului imam, jangan pula bersamaan dengan imam, tidak boleh bersamaan dengan imam tidak boleh pula mendahului imam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya aku adalah imam kalian maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk dan sujud, ketika berdiri atau ketika mengakhiri shalat"

"Artinya : Sesungguhnya seseorang itu diangkat menjadi imam  untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya, apabila imam takbir ikutilah kalian takbir dan janganlah kalian takbir hingga imam terlebih dahulu takbir dan apabila imam rukuk maka rukuklah kalian dan janganlah kalian rukuk hingga imam terlebih dahulu rukuk, apabila imam mengucap 'Sami 'allahu liman hamidah' berucaplah, 'Rabbana wa lakal hamdu'. Apabila imam sujud maka sujudlah dan janganlah kalian sujud hingga imam terlebih dahulu sujud".

Perkara ini sesungguhnya telah jelas --bagi setiap yang ingin melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Allah-- akan tetapi sebagian manusia tidak sabar melakukannya, mereka cenderung bersegera dan mendahului imam dalam gerakan shalat --Wal iyadu billah-- Wajiblah bagi kita untuk mewaspadai hal itu.

  _____


DIsalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat, dengan edisi Indonesia Akhlak Salaf, Mukminn & Mukminat, oleh Syaikh Abdul Azin bin Abdullah bin Baaz, hal 42-50, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Ihsan
  _____



NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian Terkahir dari Tiga Tulisan [3/3]
  _____  



Salah satu upaya untuk menjaga shalat fajar tepat pada waktunya dan melaksanakannya secara berjamaah, maka hendaklah seseorang bersegera untuk tidur dan tidak begadang terlalu malam.

Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isyak dan ngobrol sesudahnya.

Disyariatkan bagi mukminin dan mukminat mencurahkan segala kemampuannya untuk menjaga shalat agar tepat pada waktunya tidak begadang setelah Isyak, karena hal itu terkadang menjadikan seseorang ketiduran --ketinggalan Shalat Fajar--. Seyogyanyalah pada saat-saat yang perlu dicermati ini kita saling tolong menolong agar bisa melaksanakannya. Sebagaimana layaknya tolong menolong antar anggota keluarga dalam menunaikan urusan shalat Fajar ini.

Allah berfirman :

"Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran". (Al-Maidah : 2)

"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran". (Al-Ashr : 1-3).

Wajib bagi kaum muslimin saling memberi nasehat dan berwasiat tentang kebenaran, tolong menolong dalam kebaikan, dan amar ma'ruf nahi mungkar sebelum terjadinya hukuman dari Allah. Telah ada hadist shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkenan dengan perkara tersebut :

"Artinya : Sesungguhnya manusia, apabila melihat kemungkaran dan tidak berupaya untuk merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menyegerakan hukuman bagi mereke secara umum".

"Artinya : Ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat'. (Nasihat artinya sucinya hati atau ikhlas). Maka bertanyalah sahabat, 'Untuk siapa Ya Rasulullah ?'. Nabi menjawab : 'Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin, serta kaum muslimin semuanya".

Berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajaliy Radhiyallahu anhu.

"Artinya : Aku membai'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menegakan shalat, menunaikan zakat dan nasehat untuk setiap muslim".

Disyari'atkan bagi setiap muslim manakala mendengar ajaran yang berfaedah agar menyampaikannya kepada yang lain, demikian pula muslimat agar supaya menyampaikan kepada yang lain, manakala mendengar ilmu yang bermanfaat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, "Sampaikan ajaran dariku sekalipun  hanya satu ayat".

Adalah Nabi manakala berkhotbah di hadapan manusia beliau bersabda : "Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir) menyampaikan kepada yang tidak hadir, adakalanya seorang penyampai ajaran (mubaligh) tidak lebih menguasai dari yang sekedar mendengar".

Sabdanya lagi :

"Artinya : Barangsiapa meniti jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan permudah baginya jalan menuju jannah".

Termasuk dalam hadits ini adalah, bagi siapa saja yang datang ke masjid, atau tempat yang terdapat disana halaqah ilmu dan pengajaran ilmu yang bermanfaat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kabaikan, maka Allah fahamkan dia terhadap agama.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Allah pasti melihat dengan kasih sayang-Nya terhadap seseorang yang mendengar perkataanku (Nabi), lalu meresponnya dengan baik kemudian melaksanakannya sebagaimana yang di dengar, adakalanya pembicara (mubaligh) itu lebih pandai daripada pendengar adakalanya mubaligh itu menyampaikan kepada yang lebih pandai darinya".

"Artinya : Tidalah suatu kaum itu berkumpul di rumah-rumah Allah, kemudian mereka membaca kitabullah dan saling mengajarkan di antara mereka kecuali rasa tenang akan turun kepada mereka, mereka akan Allah dengan rahmat dan akan dikelilingi Malaikat serta mereka diingat Allah tentang apa-apa yang ada di sisi-Nya".

Ini menunjukkan disyariatkannya berlomba dalam halaqah ilmu, menaruh perhatian besar terhadapnya, dan tamak untuk berkumpul dalam rangka tilawatul qur'an dan saling mengajarkannya.

Diantaranya ialah mendengarkan acara-acara keagamaan, penyampaian hadits-hadits yang bermanfaat, penyiaran tilawah qur'an yang dipandu oleh mereka yang dipandang mampu dalam bidang ilmu agama dan bashirah (hujjah) serta kebaikan aqidah.

Sebagaimana sudah dimaklumi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah, sudah semestinya dilakukan berdasarkan ilmu. Manusia tidak akan mengerti hakekat ibadah yang telah dibebankan kepadanya kecuali dengan belajar dan mendalami agama. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (Adz-Dzariyat : 56).

Ibadah yang bagaimanakah yang diwajibkan kepada kita untuk mempelajari dan mempelajarinya ? Yaitu segala sesuatu yang disyari'atkan Allah dan dicintainya untuk dilakukan hamba-Nya, seperti shalat, zakat, shiyam dan selainnya. Kemudian Allah berfirman :

"Artinya : Dan orang-orang yang membayar zakat".

Zakat adalah haqqul mal, Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat dari sebagian hartanya kepada yang berhak menerima. Allah mewajibkan bagi pembayar zakat agar ikhlas karena Allah berharap pahala-Nya serta takut terhadap hukumannya. Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin". (At-taubah : 60).

Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya :

"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Setelah Allah menyebutkan shalat, zakat, loyalitas diantara kaum mukmin, amar ma'ruf nahi mungkar, Allah berfirman :

"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Yaitu, (taat) dalam segala sesuatu, seperti taat dalam masalah amar ma'ruf nahi mungkar, shalat dan zakat. Pendek kata, mentaati Allah dalam segala hal.

Demikian sifat mukminin dan mukminat, yaitu mereka selalu mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya dimanapun mereka berada. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan ketaatan yang utuh kepada-Nya.

Allah berfirman :

"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat karunia Allah".

Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya orang-orang yang istiqamah dalam agamanya, menunaikan kewajiban terhadap Allah, mentaati-Nya dan mentaati Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam, mereka itulah yang berhak mendapat karunia di dunia dan di akhirat karena ketaatannya kepada Allah, keimanan dengan-Nya serta pelaksanaan kewajiban terhadap-Nya.

Hal itu juga menunjukkan bahwa sesungguhnya bagi orang yang berpaling, lalai dan orang-orang yang mengabaikan kewajiban, maka bagi mereka sama halnya dengan menyodorkan dirinya untuk di adzab Allah dan dimurkai-Nya.

Rahmat Allah bisa diperoleh dengan amal shalih dan kesungguhan dalam mentaati Allah dan menegakkan perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berpaling serta mengikuti hawa nafsu atau setan, maka baginya naar pada hari kiamat.

Allah berfirman :

"Artinya : Adapun orang-orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya narlah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya janahlah tempata tinggal(nya)". (An-Naziat : 38-41).

Kita memohon kepada Allah dengan Asma'ul Husna-Nya dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, semoga Allah menunjukkan kita dan segenap kaum muslimin kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, semoga Allah memperbaiki hati kita dan amal kita sekalian, semoga Allah memberi rezeki berupa kemampuan melaksanakan Tawashau bil haq dan  tawashau bish shabr, tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, mengutamakan akhirat atas dunia, mempunyai keinginan untuk tetap memiliki keselamatan hati dan amal, ambisi untuk bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun mereka berada.

Kita memohon kepada Allah semoga Dia memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, membimbing para pemimpin kaum muslimin keseluruhan, memperbaiki hati dan amal mereka, memberi mereka pemahaman agama dan kelapangan hati untuk berhukum dan memutuskan perkara dengan syari'at-Nya, tetap istiqamah di jalan-Nya. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita dan seluruh kaum muslimin di segala penjuru dari berbagai macam fitnah dan ujian, menghinakan musuh-musuh Islam di manapun mereka berada, membatasi ruang lingkup kekuasaan mereka, serta menolong ikhwan-ikhwan kita para mujahidin fie sabilillah di setiap tempat. Sesungguhnya Allah pemimpin kaum muslimin dan Maha Kuasa atasnya.

Wa shalallahu wasallam 'ala nabiyina Muhammadin wa alihi shahbihi ajma'iin.

  _____


Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat, dengan edisi Indonesia Akhlak Salaf, Mukminin dan Mukminat, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, hal. 50-58, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Ihsan
  _____



MERAJALELANYA BUNYI-BUNYIAN [MUSIK] SERTA DIANGGAP HALAL



MERAJALELANYA BUNYI-BUNYIAN [MUSIK]
SERTA DIANGGAP HALAL

Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil
  _____  



Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. 'Ada yang bertanya kepada Rasulullah'. Wahai  Rasulullah, kapankah hal itu terjadi.? Beliau menjawab. 'Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita". (Bagian awalnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2:1350 dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi. Al-Haitsami berkata : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dan di dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Abiz Zunad yang padanya terdapat kelemahan, sedangkan perawi-perawi yang lain bagi salah satu jalannya adalah perawi-perawi shahih'. Majma'uz Zawaid 8:10. Al-Albani berkata : 'Shahih'. Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3:216 hadits no. 3559).

Pertanda (alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih banyak lagi. Pada masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-mana, dan biduan serta biduanita tak terbilang jumlahnya. Padahal, mereka itulah yang dimaksud dengan al-qainat (penyanyi-penyanyi) dalam hadits diatas. Dan yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalal kan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan ada kaum yang pergi ke tepi bukit yang tinggi, lalu para pengembala dengan kambingnya menggunjingi mereka, lantas mereka di datangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Mereka berkata, 'Kembalilah kepada kami esok hari'. Kemudian pada malam harinya Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka, sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah wajahnya menjadi monyet dan babi sampai hari kiamat".(Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah, Bab Maa Jaa-a fi Man Yastahillu Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51).

Ibnu Hazm menganggap bahwa hadits ini munqathi' (terputus sanad atau jalan periwayatannya), tidak bersambung antara Bukhari dan Shidqah bin Khalid (Al-Muhalla, karya Ibnu Hazm 9:59, dengan tahqiq Ahmad Syakir, Mansyurat Al-Maktab At-Tijari, Beirut).

Anggapan Ibnu Hazm ini disanggah oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menjelaskan bahwa pendapat Ibnu Hazm itu batal dari enam segi (Tahdzib As-Sunan 5:270-272).

1.       
Bahwa Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan mendengar hadits darinya. Apabila beliau meriwayatkan hadits darinya secara mu'an'an (dengan menggunakan perkataan 'an /dari) maka hal itu telah disepakati sebagai muttashil karena antara Bukhari dan Hisyam adalah sezaman dan beliau mendengar darinya. Apabila beliau (Bukhari) berkata : "Telah berkata Hisyam" maka hal itu sama sekali tidak berbeda dengan kalau beliau berkata, "dari Hisyam ....."
2.       
Bahwa orang-orang kepercayaan telah meriwayatkannya dari Hisyam secara maushul. Al-Ismaili berkata di dalam shahihnya, "Al-Hasan telah memberitahu-kan kepadaku, (ia berkata) : Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada kami" dengan isnadnya dan matannya.
3.       
Hadits ini telah diriwayatkan secara shah melalui jalan selain Hisyam. Al-Ismaili dan Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua sanad yang lain dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu.
4.       
Bahwa seandainya Bukhari tidak bertemu dan tidak mendengar dari Hisyam, maka beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya menunjukkan bahwa hadits ini menurut beliau telah sah dari Hisyam dengan tidak menyebut perantara antara beliau dengan Hisyam. Hal ini dimungkinkan karena telah demikian masyhur perantara-perantara tersebut atau karena banyaknya jumlah mereka. Dengan demikian hadits tersebut sudah terkenal dan termasyhur dari Hisyam.
5.       
Apabila Bukhari berkata dalam Shahih-nya, "Telah berkata si Fulan", maka hadits tersebut adalah shahih menurut beliau.
6.       
Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Shahih-nya dan berhujjah dengannya, tidak sekedar menjadikannya syahid (saksi atau pendukung terhadap hadits lain yang semakna), dengan demikian maka hadits tersebut adalah shahih tanpa diragukan lagi.

Ibnu Shalah1) berkata : "Tidak perlu dihiraukan pendapat Abu Muhammad bin Hazm Az-Zhahiri Al-Hafizh  yang menolak hadits Bukhari dari Abu Amir atau dari Abu Malik". Lalu beliau menyebutkan hadits tersebut, kemudian berkata. "Hadits tersebut sudah terkenal dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang digantungkan oleh Bukhari itu. Dan kadang-kadang beliau berbuat demikian karena beliau telah meyebutkannya pada tempat lain dalam kitab beliau dengan sanadnya yang bersambung. Dan adakalanya beliau berbuat demikian karena alasan-alasan lain yang tidak laik dikatakan haditsnya munqathi'. Wallahu a'lam. (Muqaddimah Ibnush Shalah Fii 'Ulumil Hadits, halaman 32, terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1398H. Fathul-Bari 10:52).

Saya sengaja membicarakan hadits ini agak panjang mengingat adanya sebagian orang yang terkecoh oleh pendapat Ibnu Hazm ini serta menjadikannya alasan untuk memperbolehkan alat-alat musik. Padahal, sudah jelas bahwa hadits-hadist yang melarangnya adalah shahih, dan umat ini diancam dengan bermacam-macam siksaan apabila telah merajalela permainan musik yang melalaikan (almalahi) dan merajalela pula kemaksiatan.

  _____


Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusub bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108-111 terbitan Pustaka Mantiq Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi
  _____



Foot Note.

1.       
Beliau adalah Imam dan Ahli Hadits Al-Hafizh Abu Amr Utsman bin Abdur Rahman Asy-Syahrazuri yang terkenal dengan sebutan Ibnu Shalah, seorang ahli agama yang zuhud dan wara' serta ahli ibadah, mengikuti jejak Salaf yang Shalih. Beliau memiliki banyak karangan dalam ilmu hadits dan fiqih, dan memimpin pengajian di Lembaga Hadits Damsyiq. Beliau wafat pada tahun 643H (Al-BIdayah Wan-NIhayah 13:168)

KEMAKSIATAN SEBAB TURUN ADZAB

MEWASPADAI MURKA DAN MAKAR ALLAH

Kemaksiatan merupakan sebab turunnya adzab

Kemungkaran dan kemaksiatan memang sangat sulit untuk dihilangkan bahkan
boleh dibilang tidak bisa untuk dimusnahkan dari muka bumi ini.Sebab
selagi makhluk yang bernama syetan baik dari jenis jin maupun manusia
masih bercokol dimuka bumi maka kemungkaran sudah pasti ada dan senantiasa
mengintai kita.Hal ini memang sudah menjadi sunnatullah yang berlaku bagi
manusia bahwa setiap kebaikan pasti akan berhadapan dengan
kejahatan.Sejarahpun telah mencatat bahwa setiap nabi selalu mempunyai
musuh dan penentang, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al An'am ayat 112, artinya: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu
> musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin,
> sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain
> perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
>
> Percakapan panjang antara kebaikan dengan kejahatan ini sudah dimulai
> sejak diciptakannya Nabi Adam yang ditempatkan disorga bersama istrinya
> Hawa.Permusuhan ini mencapai puncaknya ketika iblis diperintah oleh Allah
> untuk sujud(hormat) kepada Adam, maka dengan congkak ia menolak perintah
> tersebut dan sekaligus memproklamirkan permusuhan abadi dengan Nabi Adam
> dan anak cucunya.Dengan berkedok sebagai pemberi nasehat akhirnya iblis
> berhasil membujuk Adam dan istrinya agar memakan buah khuldi yang
> terlarang, sehingga mereka berdua diturunkan oleh Allah dari surga dan
> menjadi penghuni bumi. Hingga kini permu-suhan itu masih terus berlanjut
> dan akan terus berlaku hingga nanti hari kiamat.
>
> Seiring dengan kemajuan tehnologi, komunikasi dan infrastruktur maka cara
> syetan dalam menjebak dan menjeru-muskan manusia juga semakin canggih.
> Namun bukan berarti cara-cara lama terus mereka tinggalkan, karena
> terbukti kemaksiatan selalu saja tampil dengan berbagai model mulai dari
> yang sangat sederhana sampai yang super canggih.Sebagai contoh misalnya
> minuman keras (khamar) tersedia dari yang jenis sederhana dan tradisional
> seperti tuak atau arak sampai kelas wiski dan jenis-jenis lain yang hanya
> bisa dikonsumsi oleh orang-orang tertentu. Pelacuran juga tampil dengan
> berbagai macam kedok dan bahkan merambah ke hotel-hotel berbintang,
> ditambah lagi dengan arena perjudian dengan sekian banyak macam dan
> bentuknya. Sementara itu disisi lain putra-putri kita diserbu dengan
> berbagai tontonan dan pemandangan yang tidak semestinya, mulai dari
> sticker, tabloid dan majalah hingga kelas parabola dan internet. Bahkan
> dikalangan remaja dan kaum muda kini mereka punya cara yang sangat mudah
> untuk bisa mabuk tanpa harus banyak menenggak minuman keras yakni cukup
> dengan menelan pil saja. Ini semua benar-benar merupakan kemudahan yang
> ditawarkan oleh syetan untuk memperdaya anak cucu musuh bebuyutannya Adam
> 'Alaihissalaam. Dengan tanpa pandang bulu syetan menawarkan apa saja yang
> bisa menjauhkan manusia dari Allah dan surgaNya, dan hampir seluruh sisi
> kehidupan ini disentuhnya sampai-sampai orang tidak mengerti bahwa yang
> disebut-sebut sebagai paranormal dan astrologi belakangan ini ternyata
> kebanyakan dari semua itu tidak lain adalah praktek perdukunan yang sangat
> dilarang oleh Islam.
>
> Seluruh bentuk kemaksiatan diatas meskipun secara teori merupakan
> pelanggaran baik terhadap syari'at maupun undang-undang negara namun pada
> kenyataanya tetap saja dilakukan dan bahkan cenderung makin luas dan
> terang-terangan.Kondisi seperti ini sangat patut untuk kita waspadai,
> sebab berdasarkan sunnah atau ketentuan Allah yang telah berlaku, sungguh
> jika suatu kaum sudah berani terbuka dan terang-terangan dalam melakukan
> kemungkaran dan kemaksiatan maka Allah akan mendatangkan adzab dan
> siksaNya.Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang diluluhlantakkan
> sehingga negeri yang tadinya ramai dan makmur berubah menjadi lengang tak
> berpenghuni  rata dengan tanah, seperti inilah balasan bagi orang-orang
> yang bersikap demonstratif terhadap kemaksiatan yang mereka lakukan. Sudah
> tidak ada lagi dalam benak mereka rasa takut dosa dan malu, bahkan tidak
> jarang yang justru merasa bangga dengan kemaksiatan yang telah
> diperbuatnya. Ini benar-benar mengkha-watirkan karena dalam sebuah hadits
> Nabi n pernah bersabda, artinya: "Tidaklah nampak kekejian pada suatu kaum
> hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan menyebar
> dikalangan mereka wabah tha'un (pes) atau penyakit ganas yang belum pernah
> menimpa pendahulu mereka." (HR Ibnu Majah, Al-Hakim dengan mengatakan
> bahwa sanadnya shahih dan disetujui imam Adz Dzahabi).
>
> Apa yang kita saksikan dan kita dengar belakangan ini tentang menyebarnya
> penyakit Aids, siphilis, dan GO (kencing nanah) tiada lain adalah
> merupakan bukti nyata dan saksi atas kebenaran sabda Nabi SAW.
> Penyakit-penyakit ganas ini belum pernah menimpa para pendahulu kita,dan
> cukuplah itu semua menjadi nama-nama penyakit ganas terakhir yang kita
> dengar. Kemudian jangan sampai anak cucu kita mengetahui adanya penyakit
> lain yang lebih ganas dari itu semua.
>
> Mewaspadai makar Allah
>
>  Kita patut bersyukur bahwa dalam kondisi seperti ini Allah masih
> memberikan kesempatan dan waktu untuk memperbaiki diri, namun ini bukan
> berarti bahwa kita bisa terus menerus merasa aman dan tenang dari makar
> Allah. Akan tetapi hendaknya setiap kita harus waspada dan takut jikalau
> sewaktu-waktu adzab dan siksa Allah diturunkan sedangkan kita dalam
> keadaan bermaksiat kepadaNya. Janganlah kita sangka bahwa pepohon-an dan
> taman-taman yang hijau itu akan abadi, jangan kita kira bahwa rumah yang
> kita tempati dengan aman dan nyaman bisa menyelamatkan kita dari adzab
> Allah. Jika Allah menghendaki maka keadaan bisa saja berubah dalam
> sekejap, Dia bisa mendatangkan siksaNya sewaktu-waktu dan kapan saja,
> waktu malam ketika kita lelap tertidur, ataupun dipagi yang cerah ketika
> kita sedang bermain dan bercanda ria dengan anak dan keluarga, sebagaimana
> difirmankan dalam surat Al A'raf ayat 97-99, artinya: "Maka apakah
> penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada
> mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (QS. 7:97)
>
> "Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan
> siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika
> mereka sedang bermain?" (QS. 7:98)
>
> "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)
> Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang
> merugi." (QS. 7:99)
>
> Sesungguhnya jika Allah sudah berkehendak untuk menyiksa suatu kaum maka
> tak seorangpun yang mampu membendung kemaha perkasaan-Nya. Tak ada gunanya
> rencana dan makar manusia dihadapan Allah, begitu pula kekuatan, iptek dan
> harta benda. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang melakukan makar
> jahat dan kekejian berhati-hati jika Allah menurunkan siksa yang pedih
> akibat perbuatan mungkar yang telah mereka lakukan, Allah telah berfirman:
>
> Surat An-Nahl: 45-47, Al An'am 50-52, artinya: "Maka apakah orang-orang
> yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana)
> ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab
> kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab
> mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak
> dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dengan
> berangsur-angsur (sampai binasa).Maka sesungguhnya Rabbmu adalah Maha
> Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. 16: 45-47)
>
> Dalam ayat lain disebutkan, yang artinya: "Dan merekapun merencanakan
> makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang
> mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat
> makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka
> semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan
> kezaliman mereka. Sesung-guhnya pada demikian itu (terdapat) pelajaran
> bagi kaum yang mengetahui." (QS. 27:50-52)
>
> Seruan dan himbauan
>
> Tak ada yang bisa kita lakukan selain menyeru dan mengajak para pelaku
> kemungkaran dan kemaksiatan agar segera kembali ke jalan Allah yang lurus.
> Juga kepada para penguasa dan pemegang urusan rakyat hendaknya mencurahkan
> perhatian dan kemam-puan secara sungguh-sungguh untuk menyelamatkan
> kondisi umat. Bukan-kah kita semua adalah rakyat yang tidak ingin melihat
> kehancuran bangsanya, orang tua yang tak menginginkan masa depan anak cucu
> mereka suram dan tak menentu arah. Salah satu cara yang paling efektif
> ialah dengan mencegah dan melarang segala sarana yang bisa menyeret kepada
> perbuatan mungkar dan maksiat seperti beredarnya film-film yang berbau
> pornografi, majalah atau tabloid fulgar dan poster-poster seronok, juga
> nyanyian yang mengumbar nafsu dan syahwat, yang semua itu bisa memancing
> orang, terutama para pemuda dan pemudi untuk berlaku keji dan akhirnya
> menjerumuskan kelem-bah dosa, yang akibatnya sungguh berbahaya. Mari kita
> renungi semua ini!
>
> Janganlah kita sambut uluran tangan berlumur dosa yang akan menarik kita
> ke jurang kebinasaan, tapi pegang erat tangan penyeru kebaikan dan
> pencegah kemungkaran yakni para rijalul Islam, merekalah para pengemban
> dakwah dan risalah agung di alam ini. Mendampingi dan membantu mereka
> sungguh merupakan jaminan -atas izin Allah- dari merajalelanya keburukan
> dan kerusakan, jaminan untuk turunnya kebaikan dan rahmat serta
> tertahannya  siksa dan cobaan. Dan sebaliknya memerangi para penyeru dan
> penegak kebajikan adalah sebab dari kehancuran dan hilangnya berkah karena
> para da'i adalah penjaga agama, penolong syariat. Dengan demikian membantu
> mereka berarti membantu agama dan memerangi mereka sama saja dengan
> memerangi agama.
>
> Sumber: Ilal Aminin min Makrillah, Abdul Hamid bin Abdur Rahman
> As-Suhaibany. (Dept. Ilmiah)
>
> Diterbitkan Oleh :
> Div.Buletin - Dept.Ilmiah
> Yayasan Al-Sofwa
> Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta - Selatan (12610)
> Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26
> E-mail     : info@alsofwah.or.id
> WebSite  : http://www.alsofwah.or.id
>
>
> PEMENANG KUIS EDISI J. ULA 1422 H.
>
> 1.
> Siti Nurdiah, Sindang Barang Pilar I, No. 35 Rt 4 Rw 7, Bogor Barat,
> Jawa Barat.
> 2.
> Full rachmat. fhoel2001@yahoo.com, Kendari.
> 3.
> Mutri Daryanti, Karanglewas, Rt 07 Rw 03, Kutasari, Purbalingga,
> Jawa Tengah 53361.
>

KEJAMNYA SYIRIK!

Kejamnya Syirik

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar." (Luqman: 13)

Syirik adalah musuh utama tauhid, dan syirik adalah sebesar-besar dosa dan kezaliman. Seperti dinyatakan Allah dalam firman-Nya :
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisa': 48)
Sesungguhnya peperangan dan permusuhan antara tauhid dan syirik sudah terjadi sejak dahulu kala, yaitu sejak zaman Rasul Nuh `alaihis salam ketika beliau menyeru kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada tuhan-tuhan mereka yang tidak berhak untuk diibadahi. Hal ini telah diberitakan Allah di dalam firman-Nya:
"Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) kepada tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan kepada wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nashr." (Nuh: 23)
Setelah Nuh, datang  para rasul-rasul yang mempunyai misi utama serupa, sampai akhirnya datang penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Beliau menyeru seluruh kaum Arab dan seluruh umat manusia untuk ber-ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan periba-datan kepada selain Allah. Akan tetapi kaumnya men-cela-nya, menyakitinya dan memperolok-olokannya serta menjulukinya sebagai tukang sihir pendusta. Allah mengkhabarkan hal ini di dalam firman-Nya:
"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta; mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 4-5)
Begitu banyak firman Allah yang menjelaskan kepada kita bahwa peperangan antara tauhid dan syirik benar-benar sudah lama terjadi, yaitu sejak zaman Nuh `alaihis salam hingga zaman Rasulullah shal-lallahu `alaihi wa sallam. Dan hingga zaman kita seka-rang ini peperangan dan pergolakan antara keduanya terus terjadi hingga hari kiamat tiba.
Kini marilah kita melongok keadaan pada zaman kita sekarang ini. Pada zaman ini apabila dikuman-dangkan tauhid maka para pelaku syirik akan menolak bahkan memberontak dan mengangkat senjata untuk melawannya. Kaum musyrikin benar-benar marah dan murka ketika mendengar tauhid dikuman-dangkan. Apakah mereka lupa atau mereka tidak tahu bahwa yang mereka bela dan perjuangkan serta mereka agung-agungkan adalah suatu kekejaman yang akan menimpa mereka, yang lebih menyakitkan dari kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh para penjajah seandai-nya mereka menyadarinya. Karena kekejaman ini bukan hanya mengena pada anggota tubuh mereka akan tetapi juga mengena pada sesuatu yang sangat diagung-agungkan oleh seseorang, yaitu harga diri dan martabat mereka. Kekejaman yang sangat sadis ini menimpa para pelaku syirik tanpa sepengetahuan mereka.
Untuk membuktikan kejamnya syirik terhadap pelaku, pengagung dan pembelanya, marilah kita melihat dan memperhatikan poin-poin berikut ini yang akan menerangkan kepada kita bahwa syirik benar-benar berbuat kejam terhadap pelakunya.

1. Syirik Menghinakan Derajat dan Harga Diri Manusia
Sesungguhnya syirik telah menghinakan derajat manusia, meruntuhkan kemuliaan dan kedudukan-nya. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan Allah telah mem-berikan kepada manusia kemuliaan lebih dari yang lainnya. Akan tetapi manusia bodoh akan kemuliaan dirinya, dan memberikan kepada kesyirikan kesempatan dan pintu-pintu untuk menghinakannya. Manusia telah menja-dikan sebahagian makhluk-makhluk yang ada di muka bumi maupun di langit sebagai Ilah yang disembah dan diibadahi, yang manusia tunduk dan meng-hinakan diri kepadanya.
Marilah kita layangkan pandangan ke negeri-negeri yang banyak sekali terjadi kesyirikan, seperti negeri India. Di negeri yang indah dan megah itu kita akan dapati suatu pemandangan yang sangat mengenaskan, suatu pemandangan yang sangat kejam jika dipandang dengan kacamata fitrah,  jutaan manusia menyembah sapi. 
Padahal sudah menjadi kesepakatan umat sedunia bahwa yang disebut binatang tidaklah mempunyai akal dan pikiran. Subhanallah!  Syirik telah menghinakan dan merendahkan derajat manusia hingga serendah-rendahnya, yaitu menyembah dan merendahkan diri kepada sapi yang tidak berakal dan berperasaan. Dari sini dapat kita ketahui bahwa syirik telah berbuat kejam kepada para pelakunya, yaitu dengan merendahkan derajatnya yang pada mulanya tinggi dan terhormat sebagai hamba Allah yang merdeka yang tidak terikat dengan sesembahan apapun kecuali Allah, dan tidak menyembah kecuali kepada Dzat yang maha berkuasa yang telah menciptakannya dan memuliakannya, hingga menjadi serendah rendahnya dengan menyembah dan merendahkan diri kepada makhluk yang lebih rendah dan lebih hina dari dirinya.
Kini dapati begitu banyak orang-orang yang mengaku dirinya muslim berdiam diri disekitar kuburan-kuburan orang yang mereka anggap wali, untuk meminta hajat kepada orang mati tersebut, atau menjadikannya sebagai perantara dalam berdoa. Semua ini mereka lakukan disebabkan kebodohan mereka tentang agama mereka (Islam). Padahal, Islam telah melarang mereka untuk melaku-kan peribadahan kepada selain Allah. Dan orang-orang mati tersebut adalah hamba-hamba Allah seba-gai-mana halnya mereka, yang tidak mampu memberi-kan manfaat maupun mudharat, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dzalim." (Yunus: 106)
Orang-orang mati tersebut tidaklah mampu memberikan kepada diri-diri mereka sendiri manfaat dan madharat, apalagi terhadap yang lainnya. Bahkan orang-orang matilah yang membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup. Maka hendaklah manusia berdoa untuk mereka dan bukan berdoa kepada mereka. Karena Allah berfirman:
"Maka janganlah kamu menyembah seorangpun didalamnya (masjid) disamping menyembah Allah." (Al-Jin: 18)
Poin pertama  kejamnya syirik, yakni syirik telah menghinakan derajat manusia, meruntuhkan kemuliaan dan kedudukannya.
Di antaranya dengan menanamkan keyakinan dihati mereka bahwa orang-orang yang sudah mati mampu memberi manfaat maupun mudharat. Dengan keyakinan inilah orang-orang musyrik rela untuk sujud, memberikan sajian dan tidur di kuburan-kuburan. Ini adalah perbuatan yang sangat rendah dan hina.
2)       Syirik adalah Kezaliman yang Sangat Besar
Yaitu kezaliman kepada Allah dan diri pelakunya sendiri. Karena Allah telah menyatakan bahwa tidak ada Ilah selain Dia, tidak ada Rabb selain-Nya, dan tidak ada hukum selain hukum-Nya. Seorang hamba yang berbuat syirik berarti  telah berbuat kezaliman terhadap Allah, yaitu menjadikan sekutu bagi Allah yang Maha Besar, dan ia juga berbuat kezaliman terhadap dirinya sendiri dan terhadap yang lainnya, dengan menyelewengkan hak dirinya yang seharusnya tidak menyembah kecuali kepada Allah sementara dia menjadikan dirinya hamba bagi selain Allah dan memberikan suatu hak kepada yang tidak berhak menerimanya (yaitu hak peribadahan).
Pada poin ini dapat kita lihat bahwa syirik telah berlaku kejam terhadap pelakunya yaitu dengan memerintahkan secara tidak langsung  untuk berbuat zalim kepada Allah, dirinya sendiri, dan kepada orang lain. Padahal bila fitrah seseorang itu bersih, ia tidak  rela untuk berbuat zalim kepada Zat yang telah menciptakannya, memuliakannya dan memberinya rejeki. Ia juga tidak  tega untuk berbuat zalim terhadap orang lain terlebih lagi terhadap dirinya sendiri. Tapi syirik telah berbuat kekejaman hingga fitrah ini rusak dan ternoda.
3)  Syirik Memecah Belah Ummat
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)
Pada poin ini kembali kita melihat syirik berbuat kekejaman terhadap pelakunya, yaitu dengan memecah belah golongan mereka menjadi be-be-rapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan golongannya.
4)       Syirik Penyebab Masuknya Seseorang ke dalam Neraka
Inilah puncak dari kekejaman syirik, yaitu menjerumuskan pelaku, pengagung, pencinta dan pembelanya kedalam tempat yang penuh siksa, yang sangat hina dan sangat pedih yaitu neraka Jahanam dan mereka kekal selama-lamanya
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan Allah). Maka pasti Allah mengharamkan kepada Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Dari poin-poin di atas dapat kita simpulkan bahwa syirik benar-benar telah berbuat kekejaman terhadap pelakunya (musyrik). Kekejaman tersebut dimulai dari perendahan martabat dan kedudukan pelakunya ke tempat serendah-rendahnya yaitu dengan menyembah makhluk-makhluk yang lebih rendah dan lebih hina dari dirinya. Kekejaman itu berlanjut dengan membuat seorang hamba berbuat zalim kepada penciptanya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan menjadikan sekutu bagi Allah, dan perlakuan zalim seorang hamba terhadap dirinya dan terhadap makhluk yang lainnya.
Maka sadarlah wahai ummat manusia yang masih berbuat kesyirikan, membelanya serta memper-juangkannya. Tidaklah kalian melihat dan memahami bagaimana kejamnya kesyirikan yang telah kalian bela, perjuangkan dan kalian kagumi? Yang puncak kekejaman itu ialah masuknya kalian ke dalam Neraka selama-lamanya. Tidaklah berguna penyesalan apabila telah tiba hari kiyamat. Dan buanglah jauh-jauh perasaan egois dan sombong ketika kalian diingatkan untuk kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala .  Peribadahan kepada selain Allah hanyalah menghasilkan kerugian, penyesalan, kehancuran dan kehinaan di dunia, serta ratapan dan penyesalan yang tiada gunanya di Akhirat. Gunakanlah waktu kalian untuk beribadah kepada Allah yang maha agung, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yang memuliakan kalian dari makhluk-makhluk lainnya.
Dan tinggalkanlah sikap ghuluw (melewati batas dalam memuji) terhadap selain Allah, karena salah satu sebab terjadinya kesyirikan ialah ghuluw terhadap selain Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Diantara sebab terjadinya peribadahan terhadap patung dan berhala ialah ghuluw pada makhluk dan memberikan kepada makhluk sesuatu pujian yang lebih dari kedudukan makhluk tersebut. Hingga mereka menjadikan pada makhluk satu bagian dari keuluhiahan (ketuhanan) dan mereka menyerupakannya dengan Allah. Pernyerupaan inilah yang terjadi pada umat-umat terdahulu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membatalkan semuanya dan mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya dan pengingkaran-Nya dan penolakan-Nya serta bantahan terhadap golongannya (kaum musyrikin).”
Dan ingatlah selalu firman Allah tentang orang-orang yang berbuat syirik:
“Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ketempat yang jauh.” (Al-Haaj: 31)
Al-Imam At-Thabari mengatakan didalam tafsirnya (juz: 9 hal: 145) dari Qatadah, ia berkata: Ini adalah permisalan yang Allah buat untuk orang-orang yang berbuat syirik kepada-Nya, yaitu tentang jauhnya mereka dari petunjuk dan hancurnya mereka.
Wallahu a’lamu bish-Shawab.
Sumber: Majalah Salafy edisi 26